Skip to main content

Etika Berbisnis dalam Perspektif Islam

By April 8, 2022Article

Manusia merupakan khalifah Tuhan di muka bumi menjadi dasar filosofis etika, sehingga apabila manusia berperilaku sesuai amanah khalifah maka dihitung sebagai ibadah. Akibat dari konsep khalifah adalah manusia akan betangggung jawab di akhirat pada setiap perilaku dalam hidupnya. Ajaran islam yang mencakup aspek-aspek kehidupan Ajaran islam disebut dengan syariah. Istilah Syariah berasal dari kata bahasa Arab yang memiliki arti sebagai jalan yang harus diikuti. Ia bukan hanya jalan menuju keridhaan Allah yang Maha Agung, melainkan juga jalan yang diimani oleh seluruh kaum Muslimin sebagai jalan yang dibentangkan oleh Allah, Sang Pencipta itu sendiri, melalui utusan-Nya, Nabi Muhammad SAW. Selain itu, syariah adalah seperangkat norma, aturan, nilai yang membentuk cara hidup islam. Norma-norma syariah dapat digunakan sebagai dasar pembentukan etika bisnis islam.

Tantangan utama yang dihadapi oleh sistem etika adalah praktek. Meskipun etika islam kadang dianggap sebagai etika idealis, akan tetapi pada dasarnya tidak ada perbedaan antara konsep etika islam dengan konsep etika agama lain. Fakta bahwa peradaban islam pernah menjadi peradaban maju di dunia selama berabad-berabad adalah bukti bahwa konsep islam khususnya etika bisa diturunkan ke dalam bentuk praktis. Fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi etika islam juga merupkan bagian dari syariat islam.

Fredric Canney mengusulkan bahwa setiap konsep etika harus memiliki aspek kewajiban, kebajikan dan komponen nilai. Ketiga kriteria tersebut juga sejalan dengan tiga level syariah, yaitu islam yang sejajar dengan aspek kewajiban, Iman yang sejajar dengan aspek Kabajikan dan ihsan yang sejajar dengan aspek Komponen Nilai. Konsep etika islam juga sejalan dengan konsep etika normative tradisional yang juga memiliki tiga tingkatan, etika deontologi, etika konsekuensionalis dan etika moralis.

Selain itu, dasar filosofis dari etika islam, yakni konsepsi manusia sebagai khalifah dibumi. Dengan konsepsi ini meniscayakan setiap manusia akan bertanggung jawab terhadap setiap perbuatannya, dan karennya akan mendorong manusia untuk berprilkau secara etis dalam setiap kehidupannya. Namun, dasar filosofis tersebut tidak cukup untuk menjelaskan kenapa manusia harus berprilaku etis, denga hanya mengatakan bahwa manusia bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Sebagaimana yang diketahui bahwa kata islam berasal dari akar kata salamah yang berarti selamat. Itu berarti selain islam memiliki konsepsi tentang khalifah, islam juga punya doktrin teolologis (teo = tujuan, logos = diskursus). Menurut islam bahwa tujuan hidup manusia bukan hanya di bumi tapi juga di akhirat.

Dalam salah satu ayat al quran dijelaskan bahwa manusia diciptakan dengan dasar fitrah, yaitu kecenderungan kearah kesempurnaan(Mutahhari: 1994,1). Jadi tujuan hidup manusia sudah ditetapkan sejak kelahiranny, yaitu menuju kesempurnaan. Namun berbeda dengan konsep plato yang hanya melihat kesempurnaan hanya ada di alam idea. Dalam konsep islam, ide kesempurnaan merupakan proses yang harus dijalani dalamhidupnya. Disebut harus, karena ide kesempurnaan memang merupakan tujuan dasar manusia.

Jiwa manusia adalah kualitas yang dicapai hanya jika dalam hidupnya senantiasa hidup berperilaku etis/berakhlak.  kita menarik kesimpulan bahwa keharusan ber etika tidak hanya karena manusia merupakan Khalifah Tuhan di Bumi, tapi juh lebih dalam dari itu. Etika/akhlak merupakan jalan menuju kesempurnaan manusia. Untuk itu etika merupakan kemestian yang harus dipraktekkan oleh setiap manusia.

Dalam kajian Psikologi, seperti yang dijelakan oleh Jalaludin Rahmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi. Ada tiga Model kepatuhan. Yaitu kepatuhan karena adanya aturan, sepeti patuhnya bawahan terhadap bosnya, kedua kepatuhan karena adanya kesadaran bahwa ada manfaat ketika dia patuh. Seperti patuhnya seorang pasien kepada dokter yang menyarankan untuk minum obat meskipun dia tidak suka. Akan tetapi pasien tersebut sadar bahawa obat tersebut bermanfaat untuk kesahatannya. Yang ketika kepatuhan yang bersifat internalisasi, yaitu kepatuhan Karen adanya kesempurnaan di dalamnya. Seperti patuhnya seorang fans terhadap idolanya, sehingga fans tersebut tidak hanya ingin meniru idolanya tapi juga ingin menjadi idolanya. Model kepatuhan yang ketigalah diharapkan, bahwa manusia tidak hanya meihat etika sebagai kepatuhan karena adanya manfaat tapi memang melihat etika tersebut sebagai kesempurnaan hidupnya.

Untuk Anda yang ingin tahu bagaimana caranya jadi pebisnis sukses sholeh, Anda bisa mendaftarkan diri ke ESQ Masa Persiapan Pensiun. Pelatih kami berpengetahuan luas dan berpengalaman dan akan membantu Anda mempersiapkan rencana pensiun yang penuh makna.

Source:

  • Astuti, A.R.T., & Rukiah. 2019. Bisnis Halal dalam Perspektif Etika Islam: Kajian Teoritis. Al Ma’Arief: Jurnal Pendidikan Sosial, 1(2), 91-106.

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?