Skip to main content

Kisah Masa Kecil Ary Ginanjar Agustian : dari korban Bullying menjadi Juara Karate

By May 7, 2015August 20th, 2020Berita Training, Kisah Inspiratif
ary ginanjar agustian korban bullying, ary ginanjar agustian juara karate, ary ginanjar agustian peraih medali perak pon xii, training esq, ary ginanjar agustian, kisah masa kecil ary ginanjar agustian

Tak banyak masuk berita, tapi kisah masa kecil Ary Ginanjar Agustian bikin orang tak percaya. Pendiri Menara 165 setinggi 25 lantai dengan Mesjid Berlambang Allah di Puncaknya ini ternyata juara medali perak di cabang Karate Pon XII. Namun dulunya ternyata ia korban bullying.

 

Ary Ginanjar Agustian lahir dari rahim Ibu Ana Rohana Rohim dan Bapak Abdul Rohim Agustjik, pada tanggal 24 Maret tahun 1965. Lahir dalam keadaan sehat sempurna, sebagai putra pertama dari pasangan muda yang berbahagia itu.

 

Mungkin sebagian dari Anda yang menyukai sejarah, mengetahui tanggal tersebut. Terutama bagi Anda yang tinggal di daerah Bandung, tanggal itu tak akan pernah dilupakan sejarah. Ya, itu adalah tanggal dimana kota Bandung yang dicintai oleh kita semua, dibakar oleh rakyatnya sendiri, karena tidak ingin dikuasai oleh pasukan sekutu. Ya, peristiwa Bandung Lautan Api, salah satu momen paling monumental dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia. Saat itu, 22 tahun sejak terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api di tanggal 24 Maret 1946.

 

Banyak yang tidak mengetahui, tapi Ary Ginanjar Agustian, yang nantinya menjadi Peraih Medali Perak di Cabang Karate pada Pekan Olahraga Nasional ke XII, ternyata di masa kecil adalah salah satu dari korban bullying.

 

Lahir bermata sipit dan berkulit putih, Ary Ginanjar Agustian yang memiliki darah Palembang dan Bandung ini, sering disangka keturunan etnis oleh teman-temannya. Tak jarang ia diolok dan bahkan sampai dibully secara fisik.

 

Semula, ia tak ambil peduli. Ia pun tak berusaha membalas. Namun, saat para pembully mulai menyerang adik-adiknya, Ary Ginanjar Agustian tak bisa tinggal diam. Ia pun lalu masuk dan mengikuti kursus beladiri. Karate, menjadi cabang olahraga yang dipilihnya untuk ditekuni.

 

Menjadi atlet beladiri, merupakan pilihan hidup yang tidak mudah. Ary Ginanjar kecil, harus merasakan kerasnya tendangan, pukulan, serangan fisik, dari lawan tandingnya. Apakah Ary Ginanjar kemudian menjadi surut dan urung? Apakah ia berhenti belajar karate?

 

Ternyata, mundur dari pertandingan bukanlah sikap yang dipilih oleh seorang Ary Ginanjar Agustian kecil. Ia memilih untuk menahan rasa sakit yang dirasakannya saat bertanding dan berlatih karate. Perlahan, kekuatan tubuhnya makin bertambah. Kemampuannya menahan sakit menjadi jauh diatas orang kebanyakan. Yang lebih penting lagi, Ary Ginanjar Agustian remaja kemudian tampil sebagai seorang remaja yang kuat, tangguh, dan gagah. Ia pun mulai menuai kemenangan di sejumlah pertandingan.

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?