Skip to main content

Star Principle secara Sains (3) : Otak dibentuk untuk Beriman

By February 13, 2017August 20th, 2020Kisah Inspiratif
konsultan pelatihan pensiun, konsultan pensiun, konsultan masa persiapan pensiun, masa persiapan pensiun, pelatihan pensiun, pelatihan persiapan pensiun, training pensiun, training persiapan pensiun, training masa persiapan pensiun, kunjungan usaha, solusi pensiun, pra pensiun, persiapan pensiun, pensiun kaya, pensiun dini, tips orang sukses

Selamat Pagi!

 

Jumpa lagi dalam Bahasan mengenai “Rahasia ESQ”. Pekan ini kita akan membahas tentang Star Principle secara Sains (3). Berikut ini penjelasan ilmiah mengenai mengapa manusia membutuhkan Tuhan ;

 

Jordan Grafman, PhD, Direktur Bagian Kognitif Neurosains di National Institute of Neurological Disorders dan Stroke, di Amerika Serikat, menyatakan bahwa; Sejumlah penelitian di bidang Neurosains mendukung ide bahwa otak kita dibentuk untuk beriman (to believe). Tendensi ini, menurut Grafman, tersebar di berbagai wilayah di otak, dan teraktivasi dari berbagai sirkuit syaraf yang juga berkembang dan memiliki  tujuan kognitif lainnya.

 

Pada tahun 2009, Grafman mempublikasikan penelitiannya yang menggunakan fMRI, dengan hasil yang menunjukkan bahwa pemikiran religious teraktivasi pada area otak yang terlibat dalam menerjemahkan emosi dan intensi orang lain –kemampuan yang dikenal sebagai theory of mind-.

 

Penelitian yang melibatkan 40 orang ini, dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (Vol. 106, No. 12). Disini, Grafman dan para koleganya menemukan bahwa, saat subyek mendengar kalimat seperti “Tuhan akan menuntun jalan kita” dan “Tuhan melindungi kehidupan kita”, maka area di otak kita yang terlibat dalam theory of mind, menjadi aktif.

 

Hal ini sejalan dengan penelitian lain yang dipublikasikan pada tahun 2009 di Social Cognitive Affective Neuroscience (Vol.4, No. 2), sebuah Tim dari Denmark melihat bahwa wilayah otak yang sama, juga teraktivasi saat subyek yang religius sedang berdoa.

 

Hasil-hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, kontemplasi tidak terbatas hanya pada pemikiran religius saja. Walaupun sejumlah ritual seperti ibadah atau meditasi, membutuhkan proses berpikir yang selektif, namun di dalam otak, sirkuit syaraf yang aktif saat seseorang berpikir atau melakukan proses agamis, merupakan sirkuit syaraf yang sama dengan yang digunakan untuk berpikir dan untuk menangani pemikiran dan keyakinan lainnya.

 

Ritual yang dilakukan, seperti meditasi dan beribadah, memiliki potensi untuk merubah bagaimana otak saling terhubung. Demikian pernyataan dari Richard Davidson, PhD, Psikologis dari University of Wisconsin. Ia menggunakan fMRI dan EEG untuk mengukur aktivitas otak dari para biksu yang telah melakukan meditasi secara teratur selama bertahun-tahun.

 

Hasilnya, para biksu ini memiliki sistem atensi yang lebih kuat dan lebih terorganisir, dibanding dengan orang yang baru belajar bermeditasi. Esensinya, dalam meditasi- dan mungkin dalam praktek kontemplasi spiritual lainnya- dapat meningkatkan atensi dan menonaktifkan saklar untuk wilayah otak yang focus pada diri sendiri.

 

Davidson juga menyampaikan bahwa “meditasi atau ibadah adalah bagian dari latihan mental yang merubah sirkuit dalam otak yang aktif dalam pengaturan emosi dan atensi”.

 

Bagaimana pendapat anda tentang ilmu ESQ yang membahas pentingnya Star Principle? Artikel diatas membuktikan bagaimana sains menemukan perlunya kita berTuhan.

 

Untuk anda yang memerlukan Training Masa Persiapan Pensiun dari Konsultan Pensiun Terpercaya di Indonesia, kami akan mengadakan di tanggal 21-23 Maret 2017, di Jakarta.

  

Untuk keterangan lengkapnya,

hubungi kami via email : esqmpp.com atau

telepon ke 021-2940-6969 ext. 174

wa / telp ke HP ke 0856 9311 9026 (Gina)

atau wa/telp/line  ke HP  0822 9915 3339 (Ririn)

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?