Skip to main content

Star Principle secara Sains (6) : Agama Membentuk 5 Fondasi Moral Dasar

By February 16, 2017August 20th, 2020Kisah Inspiratif

Selamat Pagi!

 

Jumpa lagi dalam Bahasan mengenai “Rahasia ESQ”. Pekan ini kita akan membahas tentang Star Principle secara Sains (6). Berikut ini penjelasan ilmiah mengenai mengapa manusia membutuhkan Tuhan ;

 

Ide bahwa agama berevolusi untuk memberikan berkah bagi komunitas sosial yang lebih besar, juga sejalan dengan kerangka teoritis dari Jonathan Haidt, PhD, Psikolog dari University of Virginia, dan Jesse Graham, asisten Professor di University of Southern Callifornia. Sebagaimana dipublikasikan dalam artikel pada edisi bulan Februari dalam Jurnal Personality and Social Psychology Review (vol. 14, no. 1).

 

Mereka menyimpulkan bahwa, agama turut berevolusi dengan moralitas, sebagai sebuah cara untuk mengikat orang-orang ke dalam komunitas moral yang lebih luas. Graham dan Haidt berargumentasi bahwa, melalui tuntunan agama dan praktek ibadah, Agama membangun 5 fondasi moral dasar : 1) tidak menyakiti orang lain, 2) bersikap adil, 3) loyal pada agama, 4) menghargai pemimpin, 5) hidup secara jujur.

 

Agama-agama yang pertama kali berkembang di dunia, menggunakan ibadah untuk menunjukkan kepedulian moral secara publik dan terbuka. Contohnya dengan menghindari makan babi dan menggunakan pakaian yang menutup aurat. Bentuk praktek agama ini, merupakan sebuah ibadah juga, yang menurut Graham, membantu untuk menyatukan lebih banyak orang, dan membantu mereka untuk saling bekerjasama dan saling mendukung dalam hidup bermasyarakat. Hingga hari ini, banyak agama terus berkembang dan menjalankan tradisi yang sejalan dengan hal ini.

 

Namun, Atran, menyampaikan bahwa, selain membantu orang-orang untuk bekerja sama, Agama juga membuat pembedaan yang mendalam.  Atran, yang sering menjadi negosiator konflik agama, menyatakan bahwa, pada sejumlah area kritis di dunia, seperti di Israel, masalah yang timbul adalah; semakin orang melihat pada kelompoknya dan menyatakan keyakinannya, maka akan makin jarang ia melihat keluar dan makin menjadi tidak percaya pada kelompok lainnya.

 

Sikap tidak percaya pada kelompok lain ini, membuat banyak kekerasan dan perpecahan muncul. Hal inilah yang membuat sejumlah orang seperti Richard Dawkins, PhD, dan ahli neuro sains seperti Sam Harris, PhD, ingin melihat agama hilang.

 

Namun, keinginan mereka menjadi sangat susah, bahkan bisa dibilang tidak mungkin, melihat bukti-bukti yang ada, yang menunjukkan bahwa Agama adalah hasil dari cara kerja otak kita. Demikian disampaikan oleh Atran.

 

Barrett menyampaikan bahwa, para peneliti perlu terus memperjelas pemahaman mereka akan agama. Sejalan dengan berbagai penelitian dan temuan mereka, dan dengan memadukan berbagai area ilmu psikologi, maka masyarakat ilmiah akan memiliki kacamata yang lebih jelas untuk melihat hakikat agama, dan kemungkinan perkembangan yang akan ada di masa depan.

 

Bagaimana pendapat anda tentang ilmu ESQ yang membahas pentingnya Star Principle? Artikel diatas membuktikan bagaimana sains menemukan perlunya kita berTuhan.

 

Untuk anda yang memerlukan Training Masa Persiapan Pensiun dari Konsultan Pensiun Terpercaya di Indonesia, kami akan mengadakan di tanggal 21-23 Maret 2017, di Jakarta.

  

Untuk keterangan lengkapnya,

hubungi kami via email : esqmpp.com atau

telepon ke 021-2940-6969 ext. 174

wa / telp ke HP ke 0856 9311 9026 (Gina)

atau wa/telp/line  ke HP  0822 9915 3339 (Ririn)

 

Leave a Reply

Open chat
1
Halo,
Ada yang bisa kami bantu?